Oleh: pkkjogja | 19 Januari 2009

Sapa (SAyang PAda) Anak Kos…..

Koran pagi di tahun 2003…

Jegleeer... begitu dahsyat dan sangat mengagetkan berita pagi itu….. “Jogja Kota Pendidikan…Jogja Ada Seks Bebas…” Pastinya hari itu, dalam minggu itu, dan mungkin selama satu bulan……para orangtua sibuk menelpon, menjenguk/menengok putra putrinya, mencari tahu kebenaran dari berita itu, dan akan khawatir selama belum ada kejelasan. Apa kira-kira yang akan terjadi pada anak-anak mereka…kalau berita itu betul…tentunya sangat merugikan kami, warga jogja. Mari kita tunjukkan bahwa berita itu tidak benar… Jogja masih Kota Pendidikan yang baik….

Saya terduduk lemas… Baru beberapa bulan yang lalu, kami mendata dan melakukan komunikasi dengan pemilik pondokan di salah satu kecamatan di Kota Yogyakarta, tiba-tiba berita tak sedap itu muncul. Pendataan kami lakukan (PKK bersama instansi terkait dan mahasiswa KKN), untuk memudahkan komunikasi dengan pemilik kos/pemilik pondokan maupun Anak kos. Hasil sementara saat itu, ada satu kelurahan yang memiliki sekitar 400 Rumah kos…hal ini menyadarkan kami, warga jogja, bahwa pendidikan adalah salah satu lokomotif perekonomian kota Jogja, setelah sektor pariwisata.

Benarkah berita itu….?? Saya tidak memungkiri bahwa ada saja kasus tersebut, tidak hanya di Jogja, tetapi juga di kota-kota lain. Tapi ketika seks bebas itu ada di kos-kosan, di tempat anak-anak kita tinggal untuk tujuan belajar…., ini sangat meresahkan, menyedihkan. Mau dibawa kemana masa depan anak-anak kita….?? Mau jadi apa mereka…??? Siapkah mereka meneruskan perjuangan kita…? Kami segera melakukan berbagai kegiatan *untuk menunjukkan Jogja masih menjadi kota tujuan belajar, Anak Kos masih pada tujuannya, yaitu belajar dan… tidak benar berita seks bebas.*

Saya segera bertemu dengan Pak Camat, Pak Lurah, serta ibu-ibu Kader PKK, untuk membuat gerakan yang konkrit dan membuktikan pada semua orangtua anak kos yang tinggal di seluruh Indonesia, bahwa Jogja masih kondusif untuk belajar, bahwa anak-anak masih bersemangat belajar dan dalam kondisi baik-baik.

Gerakan itu saya namakan SAPA ANAK KOS…(sapa berarti SAyang PAda, atau menyapa….). Kegiatan Sapa Anak Kos intinya adalah melakukan komunikasi yang efektif dengan anak-anak kos, Asrama daerah dan non asrama, serta berkomunikasi dengan pemilik pondokan. Untuk anak kos kita kunjungi rumah ke rumah, Asrama ke Asrama hingga 33 propinsi (saat itu tahun 2003). Waahhhhhhh…gak bayangkan ya…asyik sekali…..keliling Indonesia😉 tapi gak harus kemana-mana, cukup di Jogja aja… Papua, Sulawesi Tenggara, Sulsel, Sumbar, NTB, Kalteng, Kaltim, Aceh, Riau, Jawa Barat, Lampung, Bali, Bangka, dll…

Bersama Pak Lurah, Pak Camat, kader PKK dan tokoh masyarakat setempat kita kunjungi mereka, agar mereka merasa dihargai sebagai warga Jogja (walau cuma sementara), dan mereka tak merasa asing. Mereka diajak dalam kegiatan kampung setempat, membaur bersama masyarakat dalam forum-forum kajian, olah raga, kerjabakti, dll. Alhamdulillah, baik anak kos maupun pemilik pondokan menerima dengan senang hati program ini dan seterusnya mereka mengembangkan sendiri sendiri sesuai kebutuhan masing-masing.

Di tingkat Kota, secara rutin kami mengadakan kemah, buka bersama, penyuluhan narkoba, diskusi dengan topik yang berbeda-beda serta menerima usulan-usulan dari anak kos mengenai berbagai hal. Mereka juga kami minta masukannya tentang Jogja, apa yang harus kami lakukan untuk mereka…akhirnya cairlah suasana… Bahkan beberapa dari mereka merasa sangat bahagia bisa bertemu dengan saya dan ibu-ibu Jogja, yang saat ini sedang menjadi IBU PENGGANTI, selama mereka ada di Jogja, karena mereka jauh dari orang tua. Katakan pada ayah ibu di rumah masing-masing …bahwa kami siap menjadi tuan rumah yang baik, orang tua pengganti selama kalian berada di Jogja , demikian selalu saya sampaikan pada setiap kegiatan keliling kos-kosan.

Untuk pemilik kos, bersama Pak Lurah dan Pak Camat serta tokoh masyarakat setempat, dilakukan diskusi, penyuluhan tentang berbagai hal, termasuk ijin-ijin penyelenggaraan pondokan (HO) yang harus dimiliki. Dari sisi NURANI, saya selalu katakan dalam setiap pertemuan. selalu saya sampaikan kepada Ibu dan bapak pemilik pondokan; Apabila hanya unsur komersial yang dikedepankan, tanpa ada tanggung jawab moral, sosial…. maka hasil dari usaha pondokan itu tidak bermanfaat…akan mubazir... Oleh karenanya, mohon anak kos dianggap seperti anak sendiri (…bukan gak bayar lho…😉 ), ikut mengawasi, ikut menyayangi, agar anak-anak tersebut akan belajar dengan baik, berteman baik, bersosialisasi dengan baik dan akhirnya ekonomi Jogja pun akan menjadi baik, karena realitanya anak-anak kos akan menghadirkan usaha-usaha kecil yang tumbuh pada masyarakat (cucian/laundry kiloan, warung makan, Jual pulsa, warnet, dll)….. “.

Beberapa tahun program berlanjut dengan baik, bahkan berkembang dan dinamis karena kami melibatkan karang taruna, anak muda Jogja, organisasi anak-anak muda, anak kos dari berbagai daerah dalam setiap kegiatan. Sehingga kemasan kegiatan menjadi sangat ANAK MUDA, hasil rembugan mereka , bukan atas kemauan saya, ibu-ibu, instansi, dll karena saya menyadari bahwa kami berbeda sekian puluh tahun dengan usia mereka, tentu akan sangat berbeda sudut pandang dan gagasan-gagasannya. Dan akhirnya mereka punya organisasi dengan nama KCC (Kos Crisis Center), untuk wadah kegiatan setiap saat, dan kami masuk pada unsur penasehat.

Sampai akhirnya, kami (PKK) berhasil ikut menghasilkan usulan disahkannya sebuah Peraturan Daerah tentang Penyelenggaraan Pondokan, yang intinya berisi kesepahaman antara masyarakat, pemilik pondokan dan aturan-aturan yang harus dilaksanakan oleh anak kos, pemilik pondokan, dan payung hukum bagi aparat, pak RT, pak RW, pak Lurah, dst ketika terjadi pelanggaran pada penyelenggaraan kos-kosan. Secara jelas, pemerintah kota Jogja TIDAK bermaksud untuk mencari PAD (Pendapatan Asli Daerah) dari kegiatan ini, tetapi lebih kepada ketertiban kependudukan, ijin usaha, etika, sopan santun, hak dan kewajiban anak kos maupun pemilik kos.

Sahabat…..

Pertanyaannya adalah, seberapa efektifkah gerakan itu….? Secara kuantitatif, data rumah kos di Kota Jogja saja kira-kira ada sekitar empat ribuan (4.076) yang tersebar di 14 kecamatan, dan kuliah pada 15 perguruan tinggi swasta dan negeri (UIN, UAD, STIE YO, Duta Wacana, Stikes Aisyiah, Stikes, AKPRIND/sekarang Sekolah Tinggi, STIPER, dll). Ini belum termasuk UGM, UII, UMY, UPN, UNY, yang letaknya di Kabupaten Sleman dan Bantul.

Nah….., kalau ditanya seberapa efektif kah…?? Jawaban saya adalah, sudah meningkatnya pemilik pondokan yang mengurus ijin, secara rutin kita mengadakan acara dan kegiatan bersama anak-anak kos, terciptanya LABEL BAIK bagi kota pendidikan Jogja tercinta. Karena dengan berbagai komunikasi, kami mampu meyakinkan orang tua untuk mempercayakan pendidikan di Jogja, melalui berbagai forum, ketika bertemu dengan peserta seminar, pelatihan istri-istri kepala daerah, selalu saya sampaikan bahwa kami akan menjadi tuan rumah yang baik, ibu atau orang tua pengganti untuk anak-anak yang kuliah di Jogja. Anak kos yang telah lulus akan menjadi agen Promosi kebaikan Jogja, kesiapan Jogja untuk menjadi tujuan pendidikan, kondusifnya Jogja untuk anak sekolah.

Konkritnya? Dengan senang hati pemda dari seluruh nusantara menerima usulan Pemerintah Kota Jogjakarta, bahwa Asrama Daerah bisa digunakan untuk Anjungan daerah…sehingga kami orang Jogja yang belum pernah ke daerah-daerah tersebut bisa melihat, belajar, tentang adat, budaya daerah lain, agar lebih familiar dan tak rentan konflik karena mudah diakses oleh masyarakat dan tidak berkesan eksklusif. Dari kunjungan terakhir ke asrama daerah, beberapa asrama sudah membuka diri untuk Anjungan Daerah, bisa diakses oleh masyarakat, dan Asrama nampak bersih karena siap menerima tamu.

Sebuah kebahagiaan tentunya ketika salah satu dari mereka, pada suatu siang menelpon/sms… Ibu, atas doa Ibu saya telah lulus pendadaran, dan akan wisuda 2 minggu lagi…mohon doanya”. Terharu dan bahagia rasanya, dengan spontan saya menelpon balik mengucapkan selamat, serta mengajak makan bersama dengan Ibu-ibu dan pengurus yang lain. “…..Saya bangga kalian bisa belajar dengan baik…lulus dengan baik dan dapat dua ijazah…Universitas formal, dan ijazah Universitas Kehidupan, karena kalian banyak bergaul, bersosialisasi dan beraktifitas dengan masyarakat Jogja… Semoga akan menjadi poin penting ketika kalian akan mulai bekerja maupun berkarya lebih lanjut.. Amien….”.

Saya pernah menceritakan hal ini pada Forum diskusi istri-istri pejabat daerah yang diselenggarakan di Jogja… Mereka terharu dan menitikkan airmata. Ini sebuah upaya kecil, mudah-mudahan upaya yang lebih besar bisa kami lakukan untuk Jogja tercinta….🙂

Salam, DS


Responses

  1. download peraturannya dimana ya?

    • Apa yang dimaksud mas ahmad adalah peraturan / perda tentang penyelenggaraan pondokan? kalau yang dimaksud itu, mas ahmad bisa download di website-nya pemerintah kota jogja : http://www.jogjakota.go.id, terus masuk ke link Bagian Hukum. Sebagai informasi, perda dimaksud masuk dalam Golongan Ketertiban dengan Nomor Perundangan : 4 Tahun 2003, Tgl Ditetapkan :
      15-Desember-2003, Status : Berlaku, Tentang :
      PENYELENGGARAAN PONDOKAN.
      monggo…silahkan dilihat. Semoga bermanfaat.
      salam…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: