Oleh: pkkjogja | 19 Januari 2009

Bro…. and Family

Rabu, 20 agustus 2008.

Pagi itu tepat pukul 08.00 WIB anak-anak kos telah disiplin waktu dan bersiap didalam bus yang akan mengantar mereka ke sebuah tempat yang akan membawa pengalaman luar biasa. Mereka berjumlah kurang lebih 50 orang, mereka adalah wakil-wakil dari berbagai propinsi di indonesia. Kegiatan bersama Anak Kos saya lakukan sejak tahun 2003, tepatnya ketika Jogja gonjang ganjing dengan pemberitaan sex bebas di antara anak kos.

Kegiatan yang saya namakan “Sapa Anak Kos” adalah upaya sederhana dalam rangka tanggung jawab saya sebagai tuan rumah, agar orangtua mereka di seluruh Indonesia masih mempercayai Jogja sebagai kota tujuan pendidikan, Jogja tidak sejelek yang ada di berita, anak-anak masih banyak yang sungguh-sungguh…. walau tidak di pungkiri, memang ada kasus sex bebas. Dengan mengadakan acara dan kegiatan bersama mereka, menyapa mereka, mendengar keluhan mereka, ada komunikasi yang efektif antara anak-anak kos, pemilik pondokan dan masyarakat setempat. Sehingga secara otomatis mereka akan nyaman tinggal dan belajar di kota yogyakarta.

Demikian pula pagi ini, dalam rangka lebih Mengenal Narkoba, PKK bekerjasama dengan Dinas Sosial dan Badan Narkotika Kota Yogyakarta mengunjungi sebuah Tempat Rehabilitasi/Pemulihan korban narkoba yang berlokasi di daerah utara Yogyakarta, yang disebut Panti Sosial Parmadi putra (PSPP) Sehat Mandiri. Bangunan Panti yang berdiri di atas tanah seluas 2,5 Ha dan berpenghuni kurang lebih 50 anak laki-laki nampak cukup megah, walaupun agak gersang karena belum banyak pohon-pohon besar yang tumbuh.

Pagi itu, nampak sekelompok penghuni (resident) kira-kira berjumlah 10 orang sedang mengadakan diskusi dilapangan, mereka saling merangkul, berpegangan tangan satu sama lain dan dipimpin oleh 2 orang pengasuh/pendamping yang mereka sebut *BRO…atau kependekan dari BROTHER*. Setelah kami diterima di sebuah aula. Dengan sedikit penjelasan, Bro Edi dan Bro Nono mempersilahkan resident untuk masuk dan memperkenalkan diri kepada kami.

Saya merinding, tercengang, sekaligus meneteskan airmata….. Sebagai seorang Ibu, campur aduk pikiran yang ada di benak saya. Teringat anak-anak saya yang jauh, ingat anak-anak kos yang jauh dari orangtua mereka, dan ingat anak-anak muda di Yogyakarta yang tidak mendapat perhatian orangtua yang beralasan sibuk. Hampir 90% penghuni panti berusia muda, bahkan ada yang berusia 14 tahun. Wajah mereka tak menunjukkan bahwa mereka nyaris kehilangan masa depan. Tatapan mata anak-anak itu tak ada bedanya dengan anak-anak kos yang saya ajak berkunjung.

Mereka berasal dari berbagai daerah; Malang, Purwokerto, Kalimantan, Lampung, dsb. Mereka datang dengan cerita dan cara yang berbeda. Ada yang dikirim oleh orangtuanya, sekolahnya, kerabat atau teman-temannya. Rata-rata sudah dalam kondisi yang cukup parah, yaitu ketergantungan yang luar biasa terhadap obat-obatan psikotropika, narkoba dan sejenisnya.

Di panti tersebut, anak-anak dilatih untuk sedikit demi sedikit mengurangi ketergantungan terhadap obat-obatan tersebut. Bro….akan membina dan terus mendampingi dari hari kehari, memberikan kegiatan, memberikan support dengan berbagai cara untuk mengembalikan mereka pada kehidupan normal, punya rasa percaya diri, dan ingin kembali kuliah, bekerja, maupun kembali kepada keluarga.

Delapan belas bulan…., minimal mereka akan bisa mulai mengenal diri sendiri, mengembalikan rasa percaya diri. Walaupun waktu 18 bulan tidak sebagai jaminan resident akan sembuh dan normal seperti sedia kala, karena dalam perjalanan pemulihan banyak hal terjadi; sakit, pergi tanpa pamit, tertular penyakit HIV atau PMS, dll serta……..dicari lagi oleh para penjual dan pengedar obat-obatan terlarang tersebut.

Kalau kita amati, jaringan beredarnya obat-obat terlarang sangat luar biasa…..melebihi produk Multi Level Marketing. Target mereka saat ini siapa saja, terutama anak muda, dari kalangan kaya maupun miskin, laki laki maupun perempuan. Penawaran dan transaksi jual beli dilakukan dimana saja, dengan berbagai cara. Ternyata disekitar kita sudah tidak aman lagi, ternyata anak-anak kita sedang menjadi sasaran, ternyata jaringan narkoba tak kenal menyerah.

Celakanya……beberapa dari resident yang berhasil Lulus, dan bisa dikembalikan kepada keluarga tetapi setelah pulang ke rumahnya, tidak jarang orang tuanya memberi uang dan tiket agar mereka pergi lagi, karena mereka telah dianggap sebagai Aib keluarga, yang akan mengganggu karir ayah dan ibunya. Makin tertutuplah masa depan mereka.

Ketika kami diperbolehkan mengadakan diskusi langsung dengan mereka, saya dan anak-anak kos membaur bersama, ada pelajaran penting yang kami dapat. Setiap resident memulai pembicaraan, diawali dengan salam……kakak, Ibu, Bro,……dan Family. Dari sorot matanya, kami menangkap mereka sangat rindu kasih sayang keluarga, sahabat, dan penghargaan dari lingkungan sekitarnya. Resident memberi penjelasan kepada kami, tentang Feeling terbesar yang mereka rasakan adalah berbeda-beda. Ada yang merasa selalu dicurigai, ingin marah, bersedih dan menyendiri atau melawan siapa saja yang mendekat, serta datangnya ketagihan obat yang luar biasa sulit mereka lawan.

Dengan berbagai kegiatan, beberapa metode pembinaan, Bro dan pengasuh lain senantiasa membuat mereka punya peran dalam family antar mereka. Ada yang menjadi koordinator/pimpinan dalam satu kelompok kecil/rumah tinggal, ada yang menjadi anak buah, dll sehingga mereka merasa dalam satu keluarga atau Family. Dari jam ke jam, hari ke hari, mereka berjuang sekuat tenaga untuk melawan keinginan-keinginan ketagihan obat dan feeling yang sangat merisaukan. Dari pengamatan saya…pada ruangan yang digunakan untuk diskusi, digambar silsilah keluarga, digambar peran, digambar kasih sayang, saling menghargai…..yang kira-kira namanya adalah pohon keluarga/family.

Begitu besarnya fungsi keluarga; ayah, ibu, anak, semuanya memiliki peran. Satu sama lain saling menghargai, saling membutuhkan, saling berbagi, dan saling menyayangi. Anak anak itu…….para resident, telah kehilangan sebagian besar dari keadaan yang mereka inginkan. Mereka merasa terbuang, tidak punya masa depan, bersalah selamanya, dan tidak ada kasih sayang. Ketika saya bertanya sambil mengelus mereka : “Apa yang kalian pikirkan ketika melihat Ibu ?” Wajah wajah polos itu menjawab : ” Saya rindu kasih sayang Ibu dan Ayah…….. “. Sangat mengharukan.

Untuk Ayah dan Ibu di seluruh indonesia…… “Untuk apa kesuksesan diperoleh, apabila harus mengorbankan anak-anak kita? Apa yang bapak Ibu peroleh menjadi sia-sia ketika salah satu dari anak kita menjadi korban Narkoba. Mereka lahir bukan keinginan mereka. Mereka ada adalah karena Karunia dan Amanah Allah yang harus kita pertanggung jawabkan sebaik mungkin.”

Siapapun kita, dimanapun kita, akan sangat mungkin menjadi korban Narkoba dan sejenisnya. Marilah bersama-sama, belajar sebanyak-banyaknya, memahami seluas-luasnya tentang Narkoba dan bahayanya, serta lindungi dan sayangi anak-anak kita agar terhindar dari bahaya Narkoba yang akan merusak masa depan bangsa. Jangan pindahkan tanggung jawab kita pada BRO dan FAMILY yang ada di Panti Pembinaan, tetapi berikanlah segala yang terbaik untuk anak-anak kita, di rumah kita, di lingkungan terdekat kita.

Ketika seorang ayah dan seorang Ibu dari keluarga sederhana, pendidikan pas-pasan, bekerja sebagai buruh, tetapi mereka mampu mengantarkan anak-anak dengan sukses, itu adalah sebuah kebahagiaan yang tidak dapat digantikan dengan uang….. Seharusnya Ayah dan Ibu yang lebih berpendidikan dan berkecukupan bisa mengantarkan anak-anaknya menjadi lebih baik, Insya Allah. Amien.

~DS~


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: